Minggu, 10 Maret 2013

~the GazettE Fanfiction “Secretly Escape” Bagian 3✩♪


#Description :
Judul            : Secretly Escape
Author         : Kemala pw a.k.a SakuraMala-chan  a.k.a nyonya Yutaka Malachan!! XD *dibanting*
Genre           : AU; little drama ; comedy aneh(?)
Rated           : PG aja deh, soale ada kata2 gak baek di sini XD
Chapter       : 03 [final?]
Cast              : member the GazettE [Uruha(main chara), Aoi, Reita ,Ruki ,Kai] ; serta OC2 nyang laen tentukan sendiri~ ( -3-)o
Warning      :gajeh kaya biasanya ; lebay; alay; bahasa abal2; ancur; agak garing.
Length           : 8 pages Ms.Word/ word : itung ndiri deh XD *plaaak*
Disclaimer   : the GazettE bukan punya saya, tapi saya cinta the GazettE, jadinya rasanya saya kaya punya the GazettE X3 *ribet*
Summary      : “Aku butuh kebebasan akan keinginanku…”
A/N                 :  ni bagian terakhirnya! wkwkwk! *bingung mau ngebacot apaan lagi* XD















Bagian 3
•••••• Secretly Escape ••••••


          Mami Uruha yang mendengar pernyataan itu langsung sempoyongan, lalu dibantu duduk oleh para pelayan di kursi makan.
“Kamu tadi bilang apa? GITARIS??”, tanya Mami Uruha masih sempoyongan.
“Iya. Seperti PAPI!!”
“CUKUP!!”
          Mami Uruha(maksudnya maminya Uruha loh, bukan Uruha yang jadi mami-mami) kali ini membentak, disusul dengan tangisnya yang terdengar sangat pilu. Uruha yang melihat hasil perbuatannya pun merasa bersalah dan mulai mendekati maminya, menenangkannya.
          Setelah dirasaa cukup tenang, Uruha pun kembali berbicara, namun kali ini dengan bersimpu di kaki maminya dan tentunya dengan nada bicara yang lembut.
“Maaf, Mi. Uruha gak bisa ngebohongin dari ini. Uruha memang sudah suka main music,khususnya gitar. Bukan piano”
“Tapi kenapa harus gitar, Uru sayang? Kamu tau kan gitar itu ngingetin mami sama papi kamu yang brengsek itu. Itu selalu bikin mami sedih.. huuhuu”
          Uruha hanya diam, tidak memberi respon. Telapak tangannya terlihat mengepal menahan marah. Iya, Uruha marah. Baginya ,papinya adalah sumber inspirasinya. Ia sangat menyayangi papinya, papinya juga sangaaaatt sayang dengan Uruha.
          Meskipun begitu, entah kenapa papi Uruha memutuskan untuk menceraikan maminya dan meninggalkan Uruha tanpa alas an yang jelas. Itu jelas saja membuat maminya sakit hati, shoXX, bahkan benci dengan papi Uruha.
          Uruha sendiri merasa sangat terpukul dengan keputusan tersebut. Tapi rasa sayang pada papinya tidak pernah berkurang. Aneh ya? =_=’’

          Sementara kita tinggalkan dulu nuansa melankolis di atas, dan kita tengok makhluk-makhluk yang ngumpet di bawah meja makan. Nampaknya ada kejadian menarik yang akan terjadi (  ^w^)o

“Hey, kita jadi nonton telenopela deh di sini”, kata Reita sambil jongkok ngelihatin Uruha dan maminya.
“Haduh, jadi runyam begini deh urusannya. Tau gitu gak aku ajak Uru-sama tadi,huhuhu”, ujar Aoi nyesel sambil gigitin jempol.
“Udah-udah, Aoi-kun. Lagian kan udah terlanjur. Kita doain yang terbaek ajalah buat Uruha dan maminya”, ungkap Kai nenangin Aoi sambil nepuk-nepuk pundaknya.
“…” Ruki cuman diem, mandangin sesuatu di pintu ke ruang berikutnya.
“Eh, Ru-chan. Ngapain kamu diem sambil ngeliat ke sono. Emang ada apaan?”, tanya Reita yang heran ama kelakuan Ruki, khidmat bener kayaknya.
“Oh, itu lho ,Rei-kun.Pelayan yang berdiri di pintu itu kayaknya ngelambai tangan ke aku ya?”
“Heh? Mana? O.O”
“Itu”. Ruki nunjuk-nunjuk seorang pelayan yang memang sudah berdiri di ambang pintu sambil melambai-lambai kaya orang nyetop angkot.
          Reita Ruki tukar pandang, terus ngeliat kea rah pelayan tadi.
“Hmm?”, Reita Ruki nunjuk ke diri masing-masing memberi kode pertanyaan yang seakan-akan bilang.. “kita?”
          Pelayan tadi manyun bentar, habis itu mengangguk juga. Batinnya begini : “Ih! Gue kan cuman manggil cowok imut itu, kenapa yang idung plester ikutan ==”
          Kemudian, Reita dan Ruki pun merayap ngikutin aba-aba pelayan itu untuk mengikutinya~

•••☺☺☺•••

“O~ jadi minta ditemenin ke gudang -0-“, celetuk Reita yang berjalan nyantai dengan tangan di belakang kepala mengikuti pelayan Uruha di depan.
“I-iya. Soalnya di gudang bawah tanah ini ada pintu besar yang berat dibuka. Selain itu kan Ruki-san harus bertanggung jawab, hehe”, kata si pelayan sambil curi pandang ke Ruki plus senyum-senyum gaje.
“Umm, maaf ya. Aku jadi merepotkan begini,” ucap Ruki menyesal.
“Hm, memangnya kamu habis ngapain Ruk? Kok pake acara bertanggung jawab segala? O.o”, tanya Reita yang setengah berbisik sambil merangkul teman mininya itu.
“Tadi kan aku gak sengaja ngejatohin piring, Rei! Masa kamu gak ngerti =.=”, jawab Ruki betek.
“Ah! Sudah sampai!”, pelayan itu berhenti lalu merogoh kunci di kantongnya.
          Reita Ruki melongo melihat pintu di hadapannya. Pintu itu berlebar kira-kira 3 meter, dengan tinggi 3 meter pula (pantesan berat -.-).Bentuknya mirip pintu rumah jerry mouse di tom & jerry, bedanya jelas~ ukurannya 100 x lebih besar. Ditambah banyak sarang laba-laba, sarang burung ,bahkan saranghaeyo(?) menempel di sudut pintu, membuat sebuah kesan angker gudang ini.

CKLEK-KLEK-KLEK

          Pelayan itu membuka gembok pintu gudang yang sudah using dengan sekuat tenaga *halah*
“Ano, bisa bantu aku mendorong pintu ini? ^^”, pinta pelayan itu sedikit mengagetkan Reita Ruki dari kebengongannya.
“B-Baik!!”, ucap Reita Ruki kompak bersemangat.

BAMM!!
Pintu gudang horror itu pun terbuka dengan sudut 1800, sempurna.
          Lagi-lagi Reita Ruki bengong, menatap betapa luasnya gudang ini. Memang sih sudah kuno dan berdebu, tapi penataann gudang ini sangat “rapih”, jadinya tidak susah berjalan di antara barang-barang di dalam sini.
“Piringnya ada di dalam buffet itu ,Ruki-san!”, kata si pelayan sambil menunjuk sebuah buffet dengan cat hitam di ujung sna.
“Baiklah! Aku akan mengambilnya!”, seru Ruki.
“Tunggu Ruki-san, se-sebenarnya buffet itu..”
“Kenapa?? O.o”, Reita ikut penasaran.
“Buffet itu milik papi Uruha-sama, jadi agak misterius. Harap hati-hati..”, kata pelayan itu lembut tapi bikin takut.

Glek. Ruki menelan ludah, merinding juga.

“Piringnya ada di sebelah mana??”, tanya Reita yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan buffet misterius itu.
“Maaf, aku kurang tahu, tapi pasti ada di dalam buffet itu”
“Aish~ baiklah aku akan bantu mencarinya”, kata Reita dengan nada heroic. Ruki yang (lumayan) terharu menghampiri Reita, ikut mencari.
          Reita mencari di bagian kiri, sedangkan Ruki di sebelah kanan. Anehnya, tiada satupun yang mau terbuka. Semuanya terkunci!
“Rei, di sini kekunci semua”
“Sama, Ruk. Di sini juga gak ada yang bisa dibuka”
“Jangan-jangan kita dikerjain”
Reita Ruki langsung ngeliatin pelayan di belakang mereka.
“Gimana Ruki-san? Reita-san? Sudah ketemu kah?”
“Semuanya kekunci neng!”, celetuk (lagi) Reita.
“Eh tunggu, Rei-kun.Kan kita belum buka yang bagian ini.”, kata Ruki menunjuk bagian paling bawah dari buffet misterius itu.
          Reita Ruki jongkok menatap bagian bawah buffet dengan penuh perasaan bimbang.
“Buka gak ya,Rei?”
“Buka aja”
“Tapi entar kalo ada drakulanya gimana?”
“Jiah, di Jepang mah gak ada drakula Ruk, adanya Sadako noh di dalem sumur”
“Lha kalo Sadako yang ada gimana?”
“Kalo Sadako yang nongol nanti kita poto bareng, terus upload di pesbuk.Pasti jadi heboh pesbuk kita! Udah gih! Cepet buka!”
“Oke deh”

CKLEK~

          Ruki membuka dengan perlahan. Sampai muncul sesuatu yang dibungkus dengan sarung (lol) berwarna hitam pekat, panjang, lebar pula.
“Apaan nih,Rei?? 0_0”, tanya Ruki gemeteran.

“Jangan-jangan…..”

“MAYAT !!? DX”

•••☺☺☺•••

“Maaf Mi, Uruha tetep ingin jadi gitaris”, kata Uruha yang bangkit dari posisi bersimpunya.
“MAMI TETEP GAK NGIZININ KAMU JADI GITARIS!”, balas mami Uruha.
“Kenapa??”
“Karena mami gak pengen kamu jadi kaya PAPIMU!”
“Papi pasti punya alas an,Mi! Uruha percaya sama papi!”
“Apa? Kamu masih percaya sama papimu yang udah ngekhianati kita gini??! Sadar Uruha!”
“Mami sendiri dulu mau menikah dengan papi kan?! Waktu itu mami percaya sama papi kan?! Pasti kan?!”, kata Uruha dengan nada tinggi.
“Ta-tapi Uruha.. itu..”,maminya Uruha kemudian terkelu. Tidak tahu atau tempe menyela bagaimana lagi.

~Flashback Start (again XD)~

“Aishiteru yo”
Seorang pemuda dengan gitarnya terlihat sedang menggenggam tangan seorang gadis cantik di hadapannya. Ya, mereka adalah papi dan mami Uruha saat masih muda~ hohoho~
“Maukah kau menikah denganku? Aku akan memainkan lagu untukmu setiap harinya dengan gitarku ini. Selalu menjagamu dari para penyamun dengan gitarku juga..da..da..”, kata pemuda itu semakin ngelantur saja omongannya. Sedangkan gadis itu cekikikan mendngarnya.
“Baka! Kau tak perlu melawan penyamun untukku! Aku hanya membutuhkanmu seorang,.. yah.. aishiteru mo.. Aku bersedia menjadi istrimu”, jawab wanita itu dengan pipi yang merona merah.
“HONTOU NI??? Gyaaaaa~ Sankyuu! Sankyuu!!”, heboh pemuda itu dengan girangnya, ia sampai koprol, kayang dan nari hulahula Hawaii saking senangnya. (-__-a) *author : geleng2*

--10 tahun kemudian—

“Kenapa harus berpisah? Apa ada yang kurang dariku? Apa aku kurang cantik?”
“Kau selalu sempurna, kau selalu cantik seperti bunga mawar, tiada yang menandingimu”
“Lalu mengapa?? Mengapa harus berpisah??”
“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, maaf.”, kata papi Uruha seraya menyentuh lembut pipi mami Uruha.Beberapa saat disambut oleh sebuah tamparan dari mami Uruha.
“TINGGALKAN SAJA AKU SENDIRI! AKU AKAN MERAWAT URUHA! BAHKAN TANPA KAU SEKALIPUN!”

~Flashback End~

          Mami Uruha kembali menitikkan air matanya. Harus diakuinya, ia memang masih sangat mencintai papinya Uruha. Meskipun rasa benci dan sakit hati itu membara, tetap saja tidak sebanding dengan rasa cintanya.


“HOIIIIIIIIIII~ URUHAAAAAAAAAAA~~~~!!”

Scream Ruki dari radius 1 kilometer xD [bayangin Ruki pas nyecream di PV Invisible Wall] sambil ngegotong(?) sebuah benda yang panjang, lebar, item lagi! Apaan coba XDDa
          Uruha dan maminya yang sedang asik bersendu(?) ria langsung melirik ke sumber suara yang mengganggu suasana drama mereka.
          Dengan backsong “we are the championggg” *ditabok bang poconggg*, Ruki memasuki panggung dengan imutnya, tapi…
BRUKK!!
          Sebelum sampai di depan Uruha, Ruki sudah kesandung tali sepatunya sendiri, ketiban benda yang digotongnya pula, gkgkgk~ Syukurlah Reita, sahabat setianya selalu siap membantunya berdiri di saat dia terjatuh [baca: kesandung*plaak*]
“Lho? Kalian bawa apa itu item-item? O.o”, tanya Uruha bingung + penasaran.
“Gak tau! Buka aja ndiri!”, jawab Ruki rada sewot; kesel momen kerennya ancur gegara kesandung.
          Uruha pun mulai membuka sarung hitam penutup benda misterius yang dibawa Ruki itu. Dan~ shalala~ benda itu ternyata benda yang sudah tak asing lagi di mata Uruha~
“Gitar hitam ini…”, Uruha kemudian memeluk benda yang kini diketahui adalah gitar tersebut dengan erat.
“Milik papimu..hh”, air mata maminya sudah tak terbendung lagi.
“Kalian dapat ini dari mana??”, tanya Uruha pada Reita Ruki.
“Itu tadi kita nemu di buffet item di gudang bawah tanah, hehehe”, kata Reita sambil cengar-cengir.

~Flashback start (again again XDa)~

“MAYAAAAAT!!?”, teriak Reita Ruki sambil berpelukan dan mejemin mata.
“Eh? Ada mayat?!!” tanya si pelayan.
“Iya!! Itu!! Hueee”, Reita Ruki masih jejeritan. Sementara si pelayan noel-noel(?) benda misterius itu, lalu setelah dinyatakan aman oleh tim gegana(?) dari ancaman bom, pelayan itu pun mengintip benda yang ada di dalam karung tersebut dengan hati-hati.
“Astaga! Benda ini!!”, pelayan itu terkejut.
“Eh? Bukan mayat ya?”, tanya Reita polos.
“Bukan. Yang jelas ini benda yang sangat berharga untuk keluarga ini.Tolong segera berikan pada Uruha-sama ya! Onegai!”, mohon pelayan itu dengan raut wajah yang serius.
“B-baiklah!”

~Flashback end~

          Uruha semakin erat memeluk gitar hitam ‘tua’ ayahnya, hingga ia pun merasa tubuhnya bergesekan dengan suatu benda yang menempel di punggung gitar itu.
“Surat?”, Uruha mengernyitkan dahinya melihat benda itu menempel sempurna dengan bantuan doubletape, bahkan ditempeli perangko dan materai segala *lebay*
          Mami Uruha mendekatkan diri pada anaknya itu, lalu mulai membaca bersama isi surat misterius yang digenggam Uruha.

~Isi Surat~

Untuk : Uruha & istriku tersayang

          Hai hai~ Apa kabar kalian?? Baikkah? Aku benar-benar bersyukur jika surat ini berhasil sampai pada kalian, karena aku menyembunyikan surat ini dengan rapih~ hohoho~
          Ruki & Reita yang ternyata ikut membaca diam-diam dari belakang Uruha pun ikut berkomentar
“Rei-kun, papinya Uruha pasti orangnya narsis ya. Suratnya aja gaul begitu”, kata Ruki tanpa dosa.
“Iya, ekspresif banget”, tambah Reita yang lalu disambit pelayan-pelayan Uruha.
          Baiklah, langsung saja aku akan mengatakan semua yang harus kukatakan sejak dulu. Maaf sebelumnya, aku membuatmu menangis istriku sayang, dan harus meninggalkanmu ,Uruha, anakku yang sangat berharga…
          Akasanku meninggalkan kalian adalah… aku sedang dikejar seorang rentenir yang hendak menagih hutang keluargaku dulu. Aku dengar dia juga akan membunuhku jika aku tidak melunasi hutang-hutang itu. Dan mereka mungkin juga akan mengincar kalian jika kalian terus bersamaku. Jadi, tolong mengertilah…
“BODOH!! Kau kan bisa menggunakan uangku dulu! Kau tidak perlu pergi meninggalkanku!!”, komentar maminya Uruha kesal sambil terisak.
“Mi, cob abaca dulu tulisan papi selanjutnya..”, ucap Uruha gentle.
“Eh?”

          Istriku, mungkin kau akan marah-marah saat membaca kata-kata di atas dan berkata “BODOH!! Kau kan bisa menggunakan uangku dulu! Kau tidak perlu pergi meninggalkanku!” begitukah? [note : papinya Uruha itu mantan paranormal~ wkk XD *author dilempar readers yg lagi serius baca*]
          Ya, itu kedengarannya mudah, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu. Kau ingat janjiku saat akan menikahimu kan? Aku akan selalu menjagamu dari para penyamun.. Jika aku menggunakan uangmu, bukankah aku sendiri yang menjadi penyamun itu?
          Lagipula aku tidak ingin membebanimu dengan urusan pribadiku, sayangku –Uruha & maminya– .Kini aku sedang mengembara untuk mencari uang dan melunasi hutang-hutang itu. Aku harap ini tidak akan lama, meskipun pasti akan lama(?)
          Mohon doakan aku, semoga aku baik-baik saja dalam pengembaraan ini dan dapat kembali untuk melihat kalian tersenyum padaku di hari esok (itupun kalau kalian masih menerimaku *lol)
          Khusus untuk Uruha, anakku, buah hatiku sayang. Tetaplah jalani hidup yang kau inginkan, jangan terlalu patuh oleh peraturan-peraturan militer mamiku,oke? Hahaha~
[respon saat membaca : Uruha -> XD ,maminya -> =3=]
          Khusus untuk istriku ,sayangku. Aishiteru… cintaku tak pernah berkurang sedikitpun untukmu, meski kau tampar dan kau bunuh aku sekalipun. Tentang janjiku untuk menjagamu dengan gitarku ini.. aku serahkan pada Uruha. Uruha, tolong jaga mamimu baik-baik, begitu juga dengan gitar hiam tua ini.
          Maaf, maaf, maaf dan terima kasih. Aku sayang kalian ^3^

Dari : Papi tercinto ~

          Begitulah sekiranya isi surat (narsong) peninggalan papinya Uruha. Mami Uruha yang terharu pun menangis dalam pelukan putranya. Uruha juga terlihat meneteskan loh(?)nya dan sesekali mengusapnya. Mereka tak menyangka, ayah + suami(?) mereka pergi meninggalkannya dengan alas an yang sangat berat. Ia pergi karena ia sangaaaatt sayang dan sangaaatt melindungi mereka. 
•••☺☺☺•••

“Oke, sekarang kamu mami izinin jadi gitaris, Uru sayang. Tapi inget, kamu harus jaga baik-baik gitar papimu ini yah ^^”, kata maminya Uruha lembut sambil menepuk pundak putranya(yang cantik) itu.
“Iya, Mi. Pasti bakal Uruha jaga sampai kapanpun. Maafin Uruha juga, tadi Uruha agak kasar sama mami”, balas Uruha dengan senyum manisnya~ *pingsan 7malem*
“Gak papa kok Uru sayang.”
          Mereka berpelukan, Reita Ruki dan pelayan-pelayan yang melihatnya ikutan mbrambang(?) terus nyerot ingus saking terharunya *jijay*

Krrook~ ngooook~ zzZZ

“He? Apaan tuh? O.o”, Uruha yang telinganya sensitive dengan suara tak mengenakkan itu pun mencari sumber-sumber suara itu.
“Astaga! Aoi! Kai! Jangan tidur di bawah meja! Entar masuk angin! ==a”, semprot Uruha mengetahui dua makhluk itu tengah tidur sambil jongkok *emange bisa XD* di bawah meja makan Uruha.
          Reita Ruki dengan cekatan menyeret(?) mereka keluar, dan mereka pun terbangun,kaget *yo mestilah -..-a*
“E?? Udah selesai yak? O.O” tanya Kai dengan polosnya.
“Udah u__u”, jawab Ruki singkat, padat, dan gakjelas xD *masih betek dia*
“Ma-maafkan saya, Nyonya!! Sayalah yang bersalah sudah mengajak Uruha-sama ikut.Tolong jangan marahi Uru-sama!”, kata Aoi dengan wajah serius sambil guncang-guncang maminya Uruha.
“Ah iya, tak apa.Aku juga berterima kasih atas kebaikanmu sudah mengajak Uruha main ^^ ya, terima kasih”
Aoi cengo sambil mengovalkan mulutnya.
          Mereka pun tertawa bersama penuh suka cito kecuali Kai dan Aoi yang cuman bengong melihat tingkah semua orang yang berbahagia itu.
“Wo, kita udah tidur berapa taon?” tanya Kai pada Aoi yang masih cengo.
“Gak tau. Yang jelas kita ketinggalan banyak episot,Kai !”, kata Aoi yakin 1000%.
“Yah, kalo gitu kita ikut-ikutan aja nyok! Timbang melongo begini”
“Ayok!”
          Kai dan Aoi yang ndak tau apa-apa pun dengan pede ngikut bersuka cito~ Dari pada melongo !! XD *ngulang kata2 Aa’ Kai* *digiles traktor*

~THE END~


---
*note : Gedhek adalah anyaman dari bambu yang biasanya dipakai untuk dinding rumah (desa), tapi sekarang udah jarang, dan biasanya dipake buat jadi dinding kandang sapi atau kambing ^^v err, mungkin masih dipake buat dinding rumah manusia sih, buat yang kurang mampu gitu (;w;) kasihan ne~ 
*ini note telat bangett!! XDD*