#Description
:
Judul : Secretly Escape
Author :
Kemala pw a.k.a SakuraMala-chan a.k.a nyonya Yutaka Malachan!! XD *dibanting*
Genre : AU; little drama ; comedy aneh(?)
Rated : PG aja deh, soale ada kata2 gak baek
di sini XD
Chapter : 03 [final?]
Cast : member the GazettE [Uruha(main
chara), Aoi, Reita ,Ruki ,Kai] ; serta OC2 nyang laen tentukan sendiri~ ( -3-)o
Warning :gajeh
kaya biasanya ; lebay; alay; bahasa abal2; ancur; agak garing.
Length : 8 pages Ms.Word/ word : itung ndiri deh XD *plaaak*
Disclaimer :
the GazettE bukan punya saya, tapi saya cinta the GazettE, jadinya rasanya saya
kaya punya the GazettE X3 *ribet*
Summary : “Aku butuh kebebasan akan keinginanku…”
A/N : ni bagian terakhirnya! wkwkwk! *bingung mau ngebacot apaan lagi* XD
Bagian 3 ✩♪
•••••• Secretly Escape ••••••
Mami
Uruha yang mendengar pernyataan itu langsung sempoyongan, lalu dibantu duduk
oleh para pelayan di kursi makan.
“Kamu tadi bilang apa? GITARIS??”, tanya
Mami Uruha masih sempoyongan.
“Iya. Seperti PAPI!!”
“CUKUP!!”
Mami
Uruha(maksudnya maminya Uruha loh, bukan Uruha yang jadi mami-mami) kali ini
membentak, disusul dengan tangisnya yang terdengar sangat pilu. Uruha yang
melihat hasil perbuatannya pun merasa bersalah dan mulai mendekati maminya,
menenangkannya.
Setelah
dirasaa cukup tenang, Uruha pun kembali berbicara, namun kali ini dengan
bersimpu di kaki maminya dan tentunya dengan nada bicara yang lembut.
“Maaf, Mi. Uruha gak bisa ngebohongin dari
ini. Uruha memang sudah suka main music,khususnya gitar. Bukan piano”
“Tapi kenapa harus gitar, Uru sayang? Kamu
tau kan gitar itu ngingetin mami sama papi kamu yang brengsek itu. Itu selalu
bikin mami sedih.. huuhuu”
Uruha
hanya diam, tidak memberi respon. Telapak tangannya terlihat mengepal menahan
marah. Iya, Uruha marah. Baginya ,papinya adalah sumber inspirasinya. Ia sangat
menyayangi papinya, papinya juga sangaaaatt sayang dengan Uruha.
Meskipun
begitu, entah kenapa papi Uruha memutuskan untuk menceraikan maminya dan
meninggalkan Uruha tanpa alas an yang jelas. Itu jelas saja membuat maminya
sakit hati, shoXX, bahkan benci dengan papi Uruha.
Uruha
sendiri merasa sangat terpukul dengan keputusan tersebut. Tapi rasa sayang pada
papinya tidak pernah berkurang. Aneh ya? =_=’’
Sementara
kita tinggalkan dulu nuansa melankolis di atas, dan kita tengok makhluk-makhluk
yang ngumpet di bawah meja makan. Nampaknya ada kejadian menarik yang akan
terjadi ( ^w^)o
“Hey, kita jadi nonton telenopela deh di
sini”, kata Reita sambil jongkok ngelihatin Uruha dan maminya.
“Haduh, jadi runyam begini deh urusannya.
Tau gitu gak aku ajak Uru-sama tadi,huhuhu”, ujar Aoi nyesel sambil gigitin
jempol.
“Udah-udah, Aoi-kun. Lagian kan udah
terlanjur. Kita doain yang terbaek ajalah buat Uruha dan maminya”, ungkap Kai
nenangin Aoi sambil nepuk-nepuk pundaknya.
“…” Ruki cuman diem, mandangin sesuatu di
pintu ke ruang berikutnya.
“Eh, Ru-chan. Ngapain kamu diem sambil
ngeliat ke sono. Emang ada apaan?”, tanya Reita yang heran ama kelakuan Ruki,
khidmat bener kayaknya.
“Oh, itu lho ,Rei-kun.Pelayan yang berdiri
di pintu itu kayaknya ngelambai tangan ke aku ya?”
“Heh? Mana? O.O”
“Itu”. Ruki nunjuk-nunjuk seorang pelayan
yang memang sudah berdiri di ambang pintu sambil melambai-lambai kaya orang
nyetop angkot.
Reita
Ruki tukar pandang, terus ngeliat kea rah pelayan tadi.
“Hmm?”, Reita Ruki nunjuk ke diri
masing-masing memberi kode pertanyaan yang seakan-akan bilang.. “kita?”
Pelayan
tadi manyun bentar, habis itu mengangguk juga. Batinnya begini : “Ih! Gue kan
cuman manggil cowok imut itu, kenapa yang idung plester ikutan ==”
Kemudian,
Reita dan Ruki pun merayap ngikutin aba-aba pelayan itu untuk mengikutinya~
•••☺☺☺•••
“O~ jadi minta ditemenin ke gudang -0-“,
celetuk Reita yang berjalan nyantai dengan tangan di belakang kepala mengikuti
pelayan Uruha di depan.
“I-iya. Soalnya di gudang bawah tanah ini
ada pintu besar yang berat dibuka. Selain itu kan Ruki-san harus bertanggung
jawab, hehe”, kata si pelayan sambil curi pandang ke Ruki plus senyum-senyum
gaje.
“Umm, maaf ya. Aku jadi merepotkan begini,”
ucap Ruki menyesal.
“Hm, memangnya kamu habis ngapain Ruk? Kok
pake acara bertanggung jawab segala? O.o”, tanya Reita yang setengah berbisik
sambil merangkul teman mininya itu.
“Tadi kan aku gak sengaja ngejatohin piring,
Rei! Masa kamu gak ngerti =.=”, jawab Ruki betek.
“Ah! Sudah sampai!”, pelayan itu berhenti
lalu merogoh kunci di kantongnya.
Reita
Ruki melongo melihat pintu di hadapannya. Pintu itu berlebar kira-kira 3 meter,
dengan tinggi 3 meter pula (pantesan berat -.-).Bentuknya mirip pintu rumah
jerry mouse di tom & jerry, bedanya jelas~ ukurannya 100 x lebih besar.
Ditambah banyak sarang laba-laba, sarang burung ,bahkan saranghaeyo(?) menempel
di sudut pintu, membuat sebuah kesan angker gudang ini.
CKLEK-KLEK-KLEK
Pelayan
itu membuka gembok pintu gudang yang sudah using dengan sekuat tenaga *halah*
“Ano, bisa bantu aku mendorong pintu ini?
^^”, pinta pelayan itu sedikit mengagetkan Reita Ruki dari kebengongannya.
“B-Baik!!”, ucap Reita Ruki kompak
bersemangat.
BAMM!!
Pintu gudang horror itu pun terbuka dengan
sudut 1800, sempurna.
Lagi-lagi
Reita Ruki bengong, menatap betapa luasnya gudang ini. Memang sih sudah kuno
dan berdebu, tapi penataann gudang ini sangat “rapih”, jadinya tidak susah
berjalan di antara barang-barang di dalam sini.
“Piringnya ada di dalam buffet itu
,Ruki-san!”, kata si pelayan sambil menunjuk sebuah buffet dengan cat hitam di
ujung sna.
“Baiklah! Aku akan mengambilnya!”, seru
Ruki.
“Tunggu Ruki-san, se-sebenarnya buffet
itu..”
“Kenapa?? O.o”, Reita ikut penasaran.
“Buffet itu milik papi Uruha-sama, jadi agak
misterius. Harap hati-hati..”, kata pelayan itu lembut tapi bikin takut.
Glek. Ruki menelan ludah, merinding juga.
“Piringnya ada di sebelah mana??”, tanya
Reita yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan buffet misterius itu.
“Maaf, aku kurang tahu, tapi pasti ada di
dalam buffet itu”
“Aish~ baiklah aku akan bantu mencarinya”,
kata Reita dengan nada heroic. Ruki yang (lumayan) terharu menghampiri Reita,
ikut mencari.
Reita
mencari di bagian kiri, sedangkan Ruki di sebelah kanan. Anehnya, tiada satupun
yang mau terbuka. Semuanya terkunci!
“Rei, di sini kekunci semua”
“Sama, Ruk. Di sini juga gak ada yang bisa
dibuka”
“Jangan-jangan kita dikerjain”
Reita Ruki langsung ngeliatin pelayan di
belakang mereka.
“Gimana Ruki-san? Reita-san? Sudah ketemu
kah?”
“Semuanya kekunci neng!”, celetuk (lagi)
Reita.
“Eh tunggu, Rei-kun.Kan kita belum buka yang
bagian ini.”, kata Ruki menunjuk bagian paling bawah dari buffet misterius itu.
Reita
Ruki jongkok menatap bagian bawah buffet dengan penuh perasaan bimbang.
“Buka gak ya,Rei?”
“Buka aja”
“Tapi entar kalo ada drakulanya gimana?”
“Jiah, di Jepang mah gak ada drakula Ruk,
adanya Sadako noh di dalem sumur”
“Lha kalo Sadako yang ada gimana?”
“Kalo Sadako yang nongol nanti kita poto
bareng, terus upload di pesbuk.Pasti jadi heboh pesbuk kita! Udah gih! Cepet
buka!”
“Oke deh”
CKLEK~
Ruki
membuka dengan perlahan. Sampai muncul sesuatu yang dibungkus dengan sarung
(lol) berwarna hitam pekat, panjang, lebar pula.
“Apaan nih,Rei?? 0_0”, tanya Ruki gemeteran.
“Jangan-jangan…..”
“MAYAT !!? DX”
•••☺☺☺•••
“Maaf Mi, Uruha tetep ingin jadi gitaris”,
kata Uruha yang bangkit dari posisi bersimpunya.
“MAMI TETEP GAK NGIZININ KAMU JADI
GITARIS!”, balas mami Uruha.
“Kenapa??”
“Karena mami gak pengen kamu jadi kaya
PAPIMU!”
“Papi pasti punya alas an,Mi! Uruha percaya
sama papi!”
“Apa? Kamu masih percaya sama papimu yang
udah ngekhianati kita gini??! Sadar Uruha!”
“Mami sendiri dulu mau menikah dengan papi
kan?! Waktu itu mami percaya sama papi kan?! Pasti kan?!”, kata Uruha dengan
nada tinggi.
“Ta-tapi Uruha.. itu..”,maminya Uruha kemudian
terkelu. Tidak tahu atau tempe menyela bagaimana lagi.
~Flashback
Start (again XD)~
“Aishiteru yo”
Seorang pemuda dengan gitarnya terlihat
sedang menggenggam tangan seorang gadis cantik di hadapannya. Ya, mereka adalah
papi dan mami Uruha saat masih muda~ hohoho~
“Maukah kau menikah denganku? Aku akan
memainkan lagu untukmu setiap harinya dengan gitarku ini. Selalu menjagamu dari
para penyamun dengan gitarku juga..da..da..”, kata pemuda itu semakin ngelantur
saja omongannya. Sedangkan gadis itu cekikikan mendngarnya.
“Baka! Kau tak perlu melawan penyamun
untukku! Aku hanya membutuhkanmu seorang,.. yah.. aishiteru mo.. Aku bersedia
menjadi istrimu”, jawab wanita itu dengan pipi yang merona merah.
“HONTOU NI??? Gyaaaaa~ Sankyuu! Sankyuu!!”,
heboh pemuda itu dengan girangnya, ia sampai koprol, kayang dan nari hulahula
Hawaii saking senangnya. (-__-a) *author : geleng2*
--10 tahun kemudian—
“Kenapa harus berpisah? Apa ada yang kurang
dariku? Apa aku kurang cantik?”
“Kau selalu sempurna, kau selalu cantik
seperti bunga mawar, tiada yang menandingimu”
“Lalu mengapa?? Mengapa harus berpisah??”
“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang,
maaf.”, kata papi Uruha seraya menyentuh lembut pipi mami Uruha.Beberapa saat
disambut oleh sebuah tamparan dari mami Uruha.
“TINGGALKAN SAJA AKU SENDIRI! AKU AKAN
MERAWAT URUHA! BAHKAN TANPA KAU SEKALIPUN!”
~Flashback End~
Mami
Uruha kembali menitikkan air matanya. Harus diakuinya, ia memang masih sangat
mencintai papinya Uruha. Meskipun rasa benci dan sakit hati itu membara, tetap
saja tidak sebanding dengan rasa cintanya.
“HOIIIIIIIIIII~ URUHAAAAAAAAAAA~~~~!!”
Scream Ruki dari radius 1 kilometer xD
[bayangin Ruki pas nyecream di PV Invisible Wall] sambil ngegotong(?) sebuah
benda yang panjang, lebar, item lagi! Apaan coba XDDa
Uruha
dan maminya yang sedang asik bersendu(?) ria langsung melirik ke sumber suara
yang mengganggu suasana drama mereka.
Dengan
backsong “we are the championggg” *ditabok bang poconggg*, Ruki memasuki panggung
dengan imutnya, tapi…
BRUKK!!
Sebelum
sampai di depan Uruha, Ruki sudah kesandung tali sepatunya sendiri, ketiban
benda yang digotongnya pula, gkgkgk~ Syukurlah Reita, sahabat setianya selalu
siap membantunya berdiri di saat dia terjatuh [baca: kesandung*plaak*]
“Lho? Kalian bawa apa itu item-item? O.o”,
tanya Uruha bingung + penasaran.
“Gak tau! Buka aja ndiri!”, jawab Ruki rada
sewot; kesel momen kerennya ancur gegara kesandung.
Uruha
pun mulai membuka sarung hitam penutup benda misterius yang dibawa Ruki itu.
Dan~ shalala~ benda itu ternyata benda yang sudah tak asing lagi di mata Uruha~
“Gitar hitam ini…”, Uruha kemudian memeluk
benda yang kini diketahui adalah gitar tersebut dengan erat.
“Milik papimu..hh”, air mata maminya sudah
tak terbendung lagi.
“Kalian dapat ini dari mana??”, tanya Uruha
pada Reita Ruki.
“Itu tadi kita nemu di buffet item di gudang
bawah tanah, hehehe”, kata Reita sambil cengar-cengir.
~Flashback
start (again again XDa)~
“MAYAAAAAT!!?”, teriak Reita Ruki sambil
berpelukan dan mejemin mata.
“Eh? Ada mayat?!!” tanya si pelayan.
“Iya!! Itu!! Hueee”, Reita Ruki masih
jejeritan. Sementara si pelayan noel-noel(?) benda misterius itu, lalu setelah
dinyatakan aman oleh tim gegana(?) dari ancaman bom, pelayan itu pun mengintip
benda yang ada di dalam karung tersebut dengan hati-hati.
“Astaga! Benda ini!!”, pelayan itu terkejut.
“Eh? Bukan mayat ya?”, tanya Reita polos.
“Bukan. Yang jelas ini benda yang sangat
berharga untuk keluarga ini.Tolong segera berikan pada Uruha-sama ya! Onegai!”,
mohon pelayan itu dengan raut wajah yang serius.
“B-baiklah!”
~Flashback
end~
Uruha
semakin erat memeluk gitar hitam ‘tua’ ayahnya, hingga ia pun merasa tubuhnya
bergesekan dengan suatu benda yang menempel di punggung gitar itu.
“Surat?”, Uruha mengernyitkan dahinya
melihat benda itu menempel sempurna dengan bantuan doubletape, bahkan ditempeli
perangko dan materai segala *lebay*
Mami
Uruha mendekatkan diri pada anaknya itu, lalu mulai membaca bersama isi surat
misterius yang digenggam Uruha.
~Isi Surat~
Untuk
: Uruha & istriku tersayang
Hai hai~ Apa kabar kalian?? Baikkah?
Aku benar-benar bersyukur jika surat ini berhasil sampai pada kalian, karena
aku menyembunyikan surat ini dengan rapih~ hohoho~
Ruki
& Reita yang ternyata ikut membaca diam-diam dari belakang Uruha pun ikut
berkomentar
“Rei-kun, papinya Uruha pasti orangnya
narsis ya. Suratnya aja gaul begitu”, kata Ruki tanpa dosa.
“Iya, ekspresif banget”, tambah Reita yang
lalu disambit pelayan-pelayan Uruha.
Baiklah, langsung saja aku akan mengatakan
semua yang harus kukatakan sejak dulu. Maaf sebelumnya, aku membuatmu menangis
istriku sayang, dan harus meninggalkanmu ,Uruha, anakku yang sangat berharga…
Akasanku meninggalkan kalian adalah…
aku sedang dikejar seorang rentenir yang hendak menagih hutang keluargaku dulu.
Aku dengar dia juga akan membunuhku jika aku tidak melunasi hutang-hutang itu.
Dan mereka mungkin juga akan mengincar kalian jika kalian terus bersamaku.
Jadi, tolong mengertilah…
“BODOH!! Kau kan bisa menggunakan uangku
dulu! Kau tidak perlu pergi meninggalkanku!!”, komentar maminya Uruha kesal
sambil terisak.
“Mi, cob abaca dulu tulisan papi
selanjutnya..”, ucap Uruha gentle.
“Eh?”
Istriku, mungkin kau akan marah-marah saat
membaca kata-kata di atas dan berkata “BODOH!! Kau kan bisa menggunakan uangku
dulu! Kau tidak perlu pergi meninggalkanku!” begitukah? [note : papinya
Uruha itu mantan paranormal~ wkk XD *author dilempar readers yg lagi serius
baca*]
Ya, itu kedengarannya mudah, tapi aku
tidak bisa melakukan hal itu. Kau ingat janjiku saat akan menikahimu kan? Aku
akan selalu menjagamu dari para penyamun.. Jika aku menggunakan uangmu,
bukankah aku sendiri yang menjadi penyamun itu?
Lagipula aku tidak ingin membebanimu
dengan urusan pribadiku, sayangku –Uruha & maminya– .Kini aku sedang
mengembara untuk mencari uang dan melunasi hutang-hutang itu. Aku harap ini
tidak akan lama, meskipun pasti akan lama(?)
Mohon doakan aku, semoga aku baik-baik
saja dalam pengembaraan ini dan dapat kembali untuk melihat kalian tersenyum
padaku di hari esok (itupun kalau kalian masih menerimaku *lol)
Khusus untuk Uruha, anakku, buah
hatiku sayang. Tetaplah jalani hidup yang kau inginkan, jangan terlalu patuh
oleh peraturan-peraturan militer mamiku,oke? Hahaha~
[respon saat membaca : Uruha -> XD
,maminya -> =3=]
Khusus untuk istriku ,sayangku.
Aishiteru… cintaku tak pernah berkurang sedikitpun untukmu, meski kau tampar
dan kau bunuh aku sekalipun. Tentang janjiku untuk menjagamu dengan gitarku
ini.. aku serahkan pada Uruha. Uruha, tolong jaga mamimu baik-baik, begitu juga
dengan gitar hiam tua ini.
Maaf, maaf, maaf dan terima kasih. Aku
sayang kalian ♥^3^
Dari
: Papi tercinto ~ ♥
Begitulah
sekiranya isi surat (narsong) peninggalan papinya Uruha. Mami Uruha yang
terharu pun menangis dalam pelukan putranya. Uruha juga terlihat meneteskan
loh(?)nya dan sesekali mengusapnya. Mereka tak menyangka, ayah + suami(?)
mereka pergi meninggalkannya dengan alas an yang sangat berat. Ia pergi karena
ia sangaaaatt sayang dan sangaaatt melindungi mereka.
•••☺☺☺•••
“Oke, sekarang kamu mami izinin jadi
gitaris, Uru sayang. Tapi inget, kamu harus jaga baik-baik gitar papimu ini yah
^^”, kata maminya Uruha lembut sambil menepuk pundak putranya(yang cantik) itu.
“Iya, Mi. Pasti bakal Uruha jaga sampai kapanpun.
Maafin Uruha juga, tadi Uruha agak kasar sama mami”, balas Uruha dengan senyum
manisnya~ *pingsan 7malem*
“Gak papa kok Uru sayang.”
Mereka
berpelukan, Reita Ruki dan pelayan-pelayan yang melihatnya ikutan mbrambang(?)
terus nyerot ingus saking terharunya *jijay*
Krrook~ ngooook~ zzZZ
“He? Apaan tuh? O.o”, Uruha yang telinganya
sensitive dengan suara tak mengenakkan itu pun mencari sumber-sumber suara itu.
“Astaga! Aoi! Kai! Jangan tidur di bawah
meja! Entar masuk angin! ==a”, semprot Uruha mengetahui dua makhluk itu tengah
tidur sambil jongkok *emange bisa XD* di bawah meja makan Uruha.
Reita
Ruki dengan cekatan menyeret(?) mereka keluar, dan mereka pun terbangun,kaget
*yo mestilah -..-a*
“E?? Udah selesai yak? O.O” tanya Kai dengan
polosnya.
“Udah u__u”, jawab Ruki singkat, padat, dan
gakjelas xD *masih betek dia*
“Ma-maafkan saya, Nyonya!! Sayalah yang
bersalah sudah mengajak Uruha-sama ikut.Tolong jangan marahi Uru-sama!”, kata
Aoi dengan wajah serius sambil guncang-guncang maminya Uruha.
“Ah iya, tak apa.Aku juga berterima kasih
atas kebaikanmu sudah mengajak Uruha main ^^ ya, terima kasih”
Aoi cengo sambil mengovalkan mulutnya.
Mereka
pun tertawa bersama penuh suka cito kecuali Kai dan Aoi yang cuman bengong
melihat tingkah semua orang yang berbahagia itu.
“Wo, kita udah tidur berapa taon?” tanya Kai
pada Aoi yang masih cengo.
“Gak tau. Yang jelas kita ketinggalan banyak
episot,Kai !”, kata Aoi yakin 1000%.
“Yah, kalo gitu kita ikut-ikutan aja nyok!
Timbang melongo begini”
“Ayok!”
Kai
dan Aoi yang ndak tau apa-apa pun dengan pede ngikut bersuka cito~ Dari pada melongo
!! XD *ngulang kata2 Aa’ Kai* *digiles traktor*
~THE
END~
---
*note : Gedhek adalah anyaman dari bambu yang biasanya dipakai untuk
dinding rumah (desa), tapi sekarang udah jarang, dan biasanya dipake buat jadi
dinding kandang sapi atau kambing ^^v err, mungkin masih dipake buat dinding
rumah manusia sih, buat yang kurang mampu gitu (;w;) kasihan ne~
*ini note telat bangett!! XDD*
